Suku Asmat merupakan salah satu suku terbesar yang mendiami Papua bagian selatan. Ritual pemakaman suku Asmat memiliki keunikannya sendiri. Bagi suku Asmat, meninggalnya seseorang bukan karena alami, melainkan karena roh jahat yang mengganggu lalu menyebabkan orang tersebut meninggal.
Oleh karena itu, masyarakat suku Asmat percaya bahwa anggotanya yang sakit harus dibuatkan pagar yang terbuat dari dahan pohon palem. Hal ini dipercaya agar roh-roh jahat di sekitar mereka menjauh dan tidak kembali lagi.
Orang Asmat akan berkumpul di sekitar orang sakit meski tidak mengobati ataupun memberi makan. Tetapi, ketika orang meninggal, mereka akan berebut berpelukan dan berguling-guling di lumpur. Lalu, jenazah diletakkan di atas para atau anyaman bambu hingga membusuk. Kemudian, tulang belulang dikumpulkan dan disimpan di tempat khusus, biasanya di atas pokok-pokok kayu sebagai bentuk penghormatan bagi mendiang.
Salah satu bagian yang paling dianggap sakral adalah tengkorak kepala. Tengkorak kepala biasanya disimpan bahkan digunakan sebagai bantal oleh keluarga dekat.
Patung Mbis
Bagi masyarakat Suku Asmat, patung bukan hanya sekadar benda estetis. Bagi mereka patung juga menjadi penghubung mereka dengan arwah nenek moyang, contohnya Patung Mbis.
Karena itu, mereka sering mewujudkan sosok almarhum dalam bentuk patung kayu yang disebut patung mbis. Patung ini bisa memiliki tinggi sekitar 5 sampai 8 meter dan menjadi simbol kehadiran roh serta bentuk penghormatan kepada leluhur. Selain itu, patung mbis menjadi simbol pengingat bahwa hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal tidak pernah benar-benar putus.
Demikian informasi mengenai tradisi pemakaman unik suku Asmat.
Sumber: Indonesia Kaya, Wahana Visi
Baca juga artikel: Mengenal Tradisi Pemakaman Unik Waruga Asal Minahasa