Sobat Elim, mari kita mengenal lebih dekat ritual adat pemakaman Marapu yang dipraktikkan oleh masyarakat Sumba. Sebagai masyarakat yang menganut keagaaman Marapu di Sumba, mereka percaya bahwa upacara-upacara dalam keagamaan Marapu dianggap sakral.
Dalam bahasa lokal, “Marapu” merujuk kepada para dewa, roh leluhur, dan kekuatan spiritual yang mengatur kehidupan umat manusia.
Makna Ritual Adat Pemakaman Marapu
Tradisi Marapu merupakan salah satu elemen paling sakral dan khas dari budaya Sumba yang masih bertahan hingga kini. Kepercayaan Marapu diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumba dan dijadikan pendoman hidup mereka.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya membentuk cara pandang orang Sumba terhadap alam semesta, kehidupan sosial, hingga perilaku memperlakukan pada sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.
Makna dari upacara kematian Marapu ini merupakan bentuk penghormatan terakhir bagi yang meninggal, sedangkan hewan kurban dimaknai sebagai penjalin hubungan yang harmonis dengan arwah leluhur dan untuk memperbaiki hubungan yang rusak karena adanya anggota kabihu (marga/klan) yang melanggar adat istiadat.
Ritual Penganut Marapu
Penganut Marapu memiliki 2 ritual besar yang menarik, yaitu wulla poddu dan pasola.
Wulla poddu adalah bulan suci bagi masyarakat Sumba penganut Marapu. Pada bulan itu, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi penganut Marapu. Larangan itu diantaranya, “selama wulla poddu tidak boleh membangun rumah, tidak boleh mengadakan pesta, kalau ada yang meninggal dilarang pukul gong bahkan ditangisi, tidak berhubungan badan dengan pasangan, tidak boleh memperbaiki rumah terutama atapnya” kata Rato Kampung Adat Tarung, Lado Regi Tera, di Sumba Barat, Selasa (22/11) mengutip Detik.
Selama wulla poddu, penganut Marapu hanya boleh memakan sayur daging ayam dan nasi selama sebulan penuh, karena mereka diwajibkan untuk berpuasa makan daging babi dan juga anjing.
Ritual besar keagamaan kedua adalah pasola. Perang adat damai adalah arti dari pasola. Saat pasola digelar, masing-masing suku akan berperang menggunakan kuda dan lembing kayu. Kemudian mereka akan dihadapkan satu sama lain untuk saling lempar lembing ke arah lawan. Pasola ini dimaknai sebagai momen untuk merekatkan kabisu masyarakat Marapu. Ritual ini biasa dilakukan oleh masyarakat pada awal musim tanam tiba tiap tahunnya.
Demikian informasi mengenai ritual pemakaman Marapu yang dilakukan oleh masyarakat Sumba yang menganut.
Sumber: , Detik, Badan Riset dan Inovasi Nasional
Baca juga artikel: Mengenal Tradisi Pemakaman Unik Waruga Asal Minahasa