Tradisi upacara kematian dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) bagian dimulai seseorang meninggal dunia sampai masa perkabungan. Ketujuh bagian tersebut adalah: upacara Jib Bok, Mai Song, Sang Cong, Jib Bong, Rung Tuh atau ki Hok, Siau Sang, dan upacara Tai Siang.
Apa Itu Mai Song?
Dalam konteks upacara pemakaman Tionghoa, mai song adalah tradisi simbolis pengantaran arwah dari orang yang telah meninggal menuju ke alam baka. Dalam tradisi mai song ini melibatkan peran anggota keluarga atau kerabat yang secara sukarela menggantikan peran anak kandung untuk “mengantar” mendiang, terutama bila mendiang tidak memiliki anak laki-laki atau tidak memiliki keluarga dekat yang bisa melaksanakan ritual.
Mai song adalah bentuk penghormatan terakhir yang sangat sakral, dan menunjukkan nilai-nilai penting dalam budaya Tionghoa: kesetiaan, bakti, dan penghormatan terhadap leluhur.
Mai Song diambil dari dialek Hokkian, yang secara etimologi ‘Mai” ialah ‘pintu’ dan ‘song’ adalah ‘duka’. Dengan demikian, ‘Mai Song’ adalah ‘pintu duka”.
Pada masyarakat keturunan Cina di Jawa Barat dan umumnya dipulau Jawa, Mai Song diistilahkan dengan ‘upacara malam pemberangkatan jenazah’, namun di luar pulau Jawa istilah upacara malam pemberangkatan jenazah kadangkala disesuaikan dengan bahasa daerah masing-masing.
Pelaksanaan Mai Song
Upacara Mai Song dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu penaikan dupa (delapan batang), pembacaan surat doa, dan penghormatan bersama terhadap jenazah dengan membungkukkan badan ke arah jenazah sebanyak tiga kali.
Upacara pelaksanaan Mai Song dimulai pada malam pemberangkatan jenazah dan ketika sanak saudara keluarga dan juga para tamu sudah berkumpul. Upacara ini dilaksanakan dengan tata cara sebagai berikut:
- Upacara siap dimulai dan semua peserta berdiri menghadap peti jenazah dan altar. Setelah semuanya berdiri dengan baik, baru dilakukan penaikan dupa. Penaikan dupa ini dipimpin oleh seorang pendoa sebagai pemimpin upacara yang didampingi oleh dua orang pembantu.
- Pembacaan doa disertai nyanyian oleh peserta upacara. Nyanyian ini harus menggunakan vocal yang sedang dan tidak melebihi suara pemimpin yang sedang membacakan doa.
- Surat doa dibakar setelah dibacakan oleh pemimpin upacara.
- Penaikan dupa diiringi lagu “Wi Tik Ting Thian” dan penyempurnaan surat doa diiringi lagu: “Thim Pao” atau “Tuhan Melindungi”.
- Tata cara terakhir dalam upacara yakni ditutup dengan penghormatan bersama dengan membungkukkan badan tiga kali kearah altar.
Sumber : Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Darno. (2008). Upacara Jib Bok, Mai Song, Sang Cong, dan Jib Gong Dalam Khonghucu
Baca juga artikel: Brobosan, Tradisi Upacara Kematian Budaya Jawa
