Indonesia memiliki banyak suku dengan budaya dan tradisi yang beragam. Salah satu suku yang dikenal dengan tradisi dan budayanya yang kental adalah suku Jawa.
Tradisi brobosan Jawa merupakan ritual upacara adat kematian yang dilakukan sebelum jenazah dimakamkan dan masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi yang biasa dilakukan oleh orang Jawa ini sebagai bentuk untuk menghormati orang yang telah meninggal.
Tradisi tersebut dilakukan berdasarkan kepercayaan Jawa yang berbunyi mikul dhuwur mendhem jero yang artinya menjunjung tinggi dan mengenang jasa dari orang yang telah meninggal.
Tradisi Brobosan, Berjalan di Bawah
Berdasarkan buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia karya Fitri Haryani, diungkapkan bahwa brobosan memiliki arti menerobos, yaitu jalan bergantian sebanyak tiga kali di bawah keranda atau peti jenazah yang sedang diangkat tinggi-tinggi. Dimulai dari sebelah kanan, ke sebelah kiri, ke depan, hingga kembali ke sebelah kanan.
Para kerabat dan tetangga akan menyiapkan ubo rampe. Berdasarkan Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah (PESAGI) dengan judul “Makna Uborampe Upacara Kematian Pada Masyarakat Jawa” karya Marcelinus Wahyu Putra Kristianto, Ali Imron, dan Yustina Sri Ekwandari, menyatakan bahwa uborampe pada upacara kematian merupakan simbol yang maknanya sebagai sebuah persiapan atau bekal untuk hidup bersama Tuhan.
Tujuan Tradisi Brobosan
Tradisi ini adalah ritual yang dilakukan masyarakat Jawa saat ada sanak saudara yang meninggal. Ritual ini juga sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada jenazah untuk melepasnya ke alam keabadian. Selain itu, agar keluarga yang ditinggalkan dapat melupakan kesedihan yang mendalam selepas kepergian yang dikasihinya.
Tujuan tradisi brobosan selanjutnya adalah sebagai harapan bagi orang-orang yang mengikuti prosesi tersebut, bahwa mereka akan meneruskan hal-hal baik yang telah dilakukan oleh orang yang telah meninggal, seperti usia panjang, pengetahuan, dan perilaku yang baik. Sehingga, biasanya brobosan tidak dilakukan pada jenazah anak-anak atau remaja dengan maksud agar kelak keluarga dan saudara tidak memiliki nasib yang sama.
Sumber: Etnis, 1001Indonesia, Kumparan, Kompas
