Dimana ada kehidupan, di situ pasti ada kematian. Disetiap pertemuan selalu ada perpisahan. Pandangan ini adalah ungkapan filosofis yang mempersepsikan bahwa kematian adalah suatu kepastian yang tidak terhindarkan dalam siklus kehidupan semua makhluk hidup. Kematian adalah rahasia Sang Pencipta, dan peristiwa kematian pada masyarakat Baduy disebut kaparupuhan.
Suku Baduy atau orang Baduy merupakan suku yang tinggal di Kabupaten Lebak, Banten, Jawa Barat. Suku ini terkenal sebagai suku yang masih berpegang teguh pada tradisi leluhur, dan mereka juga menganut kepercayaan leluhur yaitu Sunda Wiwitan.
Kaparupuhan Suku Baduy
Masyarakat Suku Baduy menyebut peristiwa kematian sebagai Kaparupuhan yang memiliki arti kehilangan. Masyarakat Baduy dalam dan luar memiliki perbedaan dalam melaksanakan upacara kematian. Masyarakat Baduy dalam akan melaksanakan ritual tradisi upacara kematian selama 40 hari lamanya, sedangkan Baduy luar selama 7 hari.
Ketika mendengar berita kematian seseorang, warga kampung serta kerabat berdatangan menunjukkan rasa duka cita mereka yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Mereka datang sambil membawa sembako seperti beras, kelapa, gula aren atau makanan yang sudah siap dihidangkan.
Proses Pengurusan Jenazah
Mereka juga akan membantu proses kedukaan selama di rumah duka, mulai dari mengurus jenazah hingga proses penguburan. Pengurus jenazah juga akan dibedakan tergantung dengan jenis kelamin jenazah, jika jenazah tersebut wanita maka ia akan diurus oleh penghulu bikang. Sedangkan, jika jenazahnya laki-laki akan diurus oleh penghulu jalu.
Prosesi pertama diawali dengan memandikan jenazah di atas batang pohon pisang, seluruh badan jenazah digosok dengan daun sirih sebagai pengganti sabun sampai benar-benar bersih. Setelah bersih, jeazah dibungkus dengan selambar boeh (kain kafan) atau kain tenun yang sudah disiapkan.
Proses Pemakaman
Pada waktu yang telah ditentukan, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka menuju pemakaman menggunakan pasarad (keranda) yang ada di masing-masing kampung. Saat jenazah diberangkatkan dari rumah duka, salah seorang kerabat mengantar prosesi tersebut dengan doa yang disebut ceurik panglayuan (tangisan mayat).
Pada saat jenazah diberangkatkan dari rumah duka, salah seorang kerabatnya mengantar prosesi tersebut dengan doa yang disebut ceurik panglayuan (tangisan mayat). Setibanya di area pemakaman, jenazah kemudian diletakkan di liang lahat dengan menghadap ke selatan yang merupakan arah Sasaka Domas dan kepala menghadap barat yang merupakan arah Sasaka Pada Agung atau tempat suci masyarakat Baduy.
Masyarakat Baduy menandai kuburan tersebut dengan pohon hanjuang. Mereka tidak pernah memelihara kuburan.
Proses Pasca Pemakaman
Setelah hari pemakaman usai warga sekitar akan berkumpul selama tiga malam di rumah duka, keluarga yang berduka juga dilarang untuk bepergian ke luar rumah selama tujuh hari. Pada hari yang ketiga, keluarga yang ditinggalkan akan menumbuk padi untuk mempersiapkan jamuan selama prosesi upacara kematian. Mereka juga memberikan sesaji yang isinya makanan-makanan khas Suku Baduy. Lalu, pada hari ketujuh, masyarakat Suku Baduy akan membuat tumpeng sebagai simbol telah usai kehidupan orang yang telah meninggal.
Baca juga artikel: Mengenal Tradisi Mai Song Dalam Kedukaan Tionghoa
