Pada momen lebaran, salah satu hal yang pasti selalu disiapkan adalah ketupat. Tapi, tahukah Sobat Elim apa sebenarnya makna dan filosofi dari ketupat? Yuk mari kita simak informasinya berikut ini!
Sejarah Ketupat
Menurut Hermanus Johannes de Graaf, dalam karya tulisnya Malay Annual, ketupat yang terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di Tanah Jawa sejak abad ke-15, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.
Tradisi ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dalam rangka berdakwah dengan menggunakan pendekatan kultur budaya. Hal tersebut karena ketupat dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa saat itu.
Ketupat dipilih sebagai menu saat Lebaran karena makanan ini dapat bertahan lama. Saat Lebaran, orang-orang akan sibuk silahturahmi sehingga tidak akan sempat membuat masakan lagi.
Filosofi dan Makna Ketupat
Dalam filosofi Jawa, ketupat Lebaran bukanlah hanya sekedar hidangan khas. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.
Ngaku Lepat atau mengakui kesalahan dilakukan dengan tradisi sungkeman. Prosesi sungkeman dilakukan dengan cara bersimpuh di hadapan orang tua memohon ampun. Budaya sungkeman ini masih ada hingga kini dan mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, mengajarkan arti keikhlasan, dan pengampunan.
Laku Papat atau empat tindakan, yang terdiri dari:
1. Lebaran. Lebaran artinya usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.
2. Luberan. Luberan artinya meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum yang membutuhkan. Tradisi bersedekah mengingatkan kita tentang kepedulian kepada sesama manusia.
3. Leburan. Luberan artinya habis dan melebur. Momen lebaran menjadi momen di mana dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.
4. Laburan. Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk menjernihkan air maupun pemutih dinding. Maknanya adalah manusia diingatkan untuk selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.
Filosofi Ketupat:
- Mencerminkan beragam kesalahan manusia. Hal tersebut terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat.
- Kesucian hati. Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.
- Mencerminkan kesempurnaan. Bentuk ketupat begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dengan kemenangan umat Islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari raya Idul Fitri.
- Karena ketupat biasanya dihidangkan dengan lauk yang bersantan, maka dalam pantun Jawa pun ada yang bilang “KUPA SANTEN“, Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf).
Demikian informasi mengenai sejarah, filosofi, dan makna dari ketupat. Semoga dapat bermanfaat.
Sumber: Karya Cerdas, Ruangguru, Detik Jateng
Baca juga artikel: Tips Mengelola Stress Berkendara Saat Arus Balik Mudik Lebaran
